Bukan.
Saya bukan sedang menganjurkan perpisahan.
Namun, apabila memang pernikahan atau suatu hubungan tidak dapat dilanjutkan lagi, apa daya?
Siapa juga yang ingin hubungannya berantakan?
tak ada kan?
Berikut ini ada cuplikan dari novel Clara Ng berjudul “Tea for Two” yang menurut saya menyedihkan, menohok dan menginspirasi.
“Tapi aku mencintainya.”
“Tidak, Sayang. Cinta yang sehat adalah cinta yang mengeluarkan arus positif untuk dapat saling menghidupkan. Cinta yang penuh penderitaan bukanlah tanah yang gembur untuk dapat menumbuhkan benih apa pun. Benih akan mati tercekik di tanah liat yang kekurangaan air.”
“Setiap saat aku berkata aku mencintainya, itu berarti aku mencintainya selama-lamanya. Sampai akhir usia hidupku. Aku akan menunggu Alan. Aku akan setia menunggu dia berubah.”
“Sayang,” sahut Carmanita. “Sampai berapa lama lagi kamu menyadari bahwa Alan tidak akan mampu mencintaimu dengan pantas? Berapa lagi jumlah perselingkuhan, pemukulan, penyiksaan baik verbal maupun tidak, yang akan kamu hadapi di masa depan?”
Yup, secuplik penggalan dari novel tersebut yang menceritakan tentang wanita bernama Sassy yang menikah dengan Alan. Sassy yang tidak tahu lagi mana yang benar mana yang salah ketika dihadapkan dengan kenyataan bahwa Alan hanyalah seorang bajingan. Dia begitu mempercayai bahwa pernikahan adalah sesuatu yang sakral, yang suci. Namun, apakah kita mau pernikahan kita dipupuk di tanah yang dari awal sudah mati?
Temans,
Umur kita makin lama makin tua, bijaklah kita dalam mencari pasangan. Tentu kita tidak mau hal di atas terjadi pada kita. Jalan hidup kitalah yang menentukan. Namun, apabila hal tersebut terjadi pada kita, Ingatlah.. TIDAK ADA YANG ABADI.
Tidak perlu kita bunuh diri.
Sebangunnya kita dari mimpi buruk itu, kita harus mengerti bahwa dunia ini masih begitu indah…
Tuhan tidak menciptakan kita untuk kita menyia-nyiakan hidup kita bukan?
So, if you are having a difficult time with Perpisahan|Perceraian.
Just do good deeds. You still have friends and family. Of course if you believe in God, you will always have Him by your side.
The story of the novel really good. It takes you like a rollercoaster. So, DO read the book.
Sarah Budiyani
lanjutan dari sepenggal novel tersebut:
“Jangan terlalu keras pada dirimu, Sassy. Pernikahan memang perlu diperjuangkan, tetapi pernikahan tidak butuh kematianmu untuk dipertahankan.”
“Alaaaah, kamu ga butuh cinta yang lebih besar, Sassy, Kamu ga butuh lelaki yang mencintaimu lebih dahsyat. Kamu membutuhkan pendamping yang mencintaimu dengan lebih baik”.
Sassy berpikir keras. “Saya tidk terikat kepada Alan, tapi mengapa rasanya seperti terikat kepadanya? Saya selalu kembali kepadanya, seperti laron yang tertarik mengitari api kemudian mati terbakar oleh panas itu. Saya tidak bisa melepaskannya. Jika saya berpisah dengannya, rasanya seperti ada kepingan diri saya yang hilang.”
“Itu dia!” gumam Tata. “Kita tidak merindukan pasangan kita. Sebenarnya, kita merindukan diri kita. Merindukan diri yang pernah kita serahkan kepada pasangan kita.”
“Tepat”, tukas Nathesa. “Itulah yang sebenarnya terjadi. Saat pasangan kita menjadi abusif, dia mengambil bagian yang sangat besar dari apa yang kita miliki di dalam diri kita. Seseorang yang abusif pandai mengeruk dan memaksa pasangannya untuk menyerahkan bagian-bagian itu. Mula-mulanya mungkin kita memberikannya dengan pasrah karena cinta. Tapi lama-lama, kita terbiasa memberikan itu sehingga rasanya tidak ada yang aneh.”
“Jika kita kehilangan pasangan, sebenarnya kita kehilangan diri kita sendiri. Kita menjadi tergantung kepadanya, karena bagian penting diri kita dimiliki oleh pasangan kita. Seperti air yang mengalir ke laut, itulah metaforanya. Laut sebagai sumber kehidupan yang berada di dalam diri pasangan. Kita semua adalah air, merasa harus mengalir menuju laut.”
“Lalu apa yang harus dilakukan untuk memotong mata rantai yang tidak sehat itu?”
“Lepaskanlah perasaan tergantung itu. Relakan sebagian dari diri kita, bagian yang sudah kita berikan kepada pasangan. Rasanya memang menyakitkan, mengerikan waktu membayangkan diri kita yang tak akan pernah utuh lagi. Seakan-akan kita adalah makhluk yang cacat. Cobalah menatap lagi dirimu di cermin ketika kamu melepaskan pasanganmu. Kamu tetap perempuan yang sama, dengan diri yang sedikit berbeda, tapi tetap cantik.”